Make your own free website on Tripod.com

REHLAH TARBAWIYYAH

HOME | Mimbar | Siapa | Contact | Artikel | Tafsir | Tetamu | FOKUS

Tetamu

panaroma.jpg

RUANGAN INI MERUPAKAN BAHAN-BAHAN SUMBANGAN DARI TETAMU WEBSITE INI. SEKIRANYA ADA YANG INGIN MEMAPARKAN BAHAN-BAHAN YANG DIRASAKAN SESUAI BOLEH E-MAILKAN KE rehlah0@yahoo.co.uk Walaubagaimanapun saya hanya akan memaparkan bahan-bahan yang saya kira tidak bertentangan dengan fikrah Islamiyyah berdasarkan pandangan saya (Segala kekurangan dan kelemahan saya dalam hal ini saya mohon pengampunan dari Allah SWT).

ULAMA’ JANGAN KAU DIAM

 

Kehidupan Umat Muslimin memerlukan pembimbing yang menunjukkan jalan agar mereka tidak celaru dan sesat dalam memilih warna-warna kehidupan. Mereka dapat terjerumus oleh godaan syaitan ke lembah kehidupan yang hina, bahkan lebih hina daripada binatang ternak, apabila syaitan memenuhi segala keinginan dengan buaian nafsu dan kepentingan peribadi.  Oleh kerana itu, betapa pentingnya kehadiran seorang ulama di tengah-tengah masyarakat. Apalagi kita hidup di zaman dan di ruang dunia yang sedang didominasi oleh ideologi buatan manusia, yakni sekularisma, hedonisma dan berbagai lagi kilauan pengaruh syaitan. 

 

Nah, tentu sekali ideologi buatan manusia ini akan menjauhkan manusia dari hukum-hukum aturan Allah SWT, kerana neraca pertimbangan manusia amat cetek dan berligar sekitar pengaruh sekelilingnya. Ideologi yang menghumban manusia kepada penuhanan material keduniawian, dan ideologi yang mengorbankan keluhuran budi demi memuja kecenderungan kepada ketamakan harta. Lihatlah, kegelapan jalan hidup jahiliyah yang sudah dihapuskan Rasulullah 15 abad yang lalu, kini muncul kembali. 

 

            Lantaran itu, kehadiran ulama yang thiqah, sangat diperlukan sekali hari ini, munculnya para ulama yang tampil mengambil peranan untuk menyelamatkan umat manusia.

 

Kedudukan Para Ulama

 

Para ulama adalah seumpama lampu yang terang menerangi jalan yang gelap gelita, membimbing dan menunjukkan jalan yang benar, menjadi wakil Allah diatas bumi ini.  Ulama adalah lambang iman dan harapan umat, memeberikan petunjuk dan menyelamatkan manusia dari segala bencana.  Tentang hal ini Rasulullah bersabda: 

 

إِنَّ مَثَلَ الْعُلَمَاءِ فِي اْلأَرْضِ كَمَثَلِ النُّجُوْمِ فِي السَّمَاءِ يَهْتَدِيْ بِهَا فِيْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّوَالْبَحْرِ فَإِذَا طَمِسَتِ النُّجُوْمُ اَوْشَكَ اَنْ تَضِلَّ الْهُدَاةُ

“Seumpama ulama di bumi adalah seperti bintang-bintang di langit yang memberi petunjuk di dalam kegelapan bumi dan laut.  Apabila dia terbenam maka jalan akan kabur”.  (HR Imam Ahmad)

 

Dalam hadits yang lain juga diriwayatkan:

 

وَأَنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ حَتَّى الْحِيْتَانَ فِي الْماَءِ وَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلىَ الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلىَ سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ.

“Seluruh mahluk yang ada di langit dan di bumi, bahkan ikan-ikan di dalam air semuanya beristighfar untuk para ulama.  Sesungguhnya kedudukan seorang alim sama mulianya dengan bulan di tengah-tengah bintang.  Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi”.  (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

 

            Seorang sahabat pernah bertanya kepada Nabi tentang kelebihan dan kemuliaan seorang alim dibandingkan dengan para ahli ibadah.  Maka nabi saw bersabda:

 

فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِيْ عَلَى اَدْنَاكُمْ اِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتَهُ وَاَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَ النَّمْلَةِ فِيْ جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوْتَ فِي الْمَاءِ لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

“Kelebihan dan kemuliaan seorang alim dibandingkan seorang ahli ibadah adalah seperti kelebihan dan kemuliaanku atas orang-orang yang  paling bawah diantaramu. Sesungguhnya Allah dan para malaikat dan penghuni langit dan bumi, bahkan semut di dalam lubangnya dan ikan-ikan didalam lautan, seluruhnya mendoakan kebaikan untuk orang alim yang selalu mengerjakan kebaikan bagi sesama manusia”.  (HR Tirmidzi).

 

Betapa tinggi dan mulia kedudukan seorang ulama yang disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah saw. di atas. Jelaslah secara ringkas, ulama bukanlah hanya tukang doa yang menjadi pemanis berbagai acara dan penghias pejabat-pejabat agama atau hamba pihak berkuasa dan harta. Mereka adalah para pewaris Nabi! Merekalah yang mengemban misi kenabian, memberikan pencerahan kepada manusia tentang risalah Allah SWT yang dibawa, diperjuangkan, dan dilaksanakan oleh Rasulullah saw. sepanjang sejarah perjalanan  kehidupan kenabian beliau saw.

 

Peranan Ulama?

 

Ya, para ulama yang mulia itu adalah para ulama yang mengerti kedudukannya sebagai pemimpin umat yang berjuang di jalan Allah, berani menyatakan yang hak itu hak, dan yang batil itu batil, serta senantiasa memberikan nasihat kepada para penguasa.  Mereka selalu tabah dan sabar menghadapi segala macam tantangan dan halangan, demi memperjuangkan kepentingan umat dan tegaknya syariah Islam di muka bumi.

 

            Ulama yang berhati bersih, jujur dan teguh dalam pendirian adalah ulama yang selalu percaya dengan sabda nabi yang berbunyi:

 

مَنْ رَأَى سُلْطَاناً جَائِرًا مُسْتَحِلاًّ لِحُرْمِ اللهِ نَاكِثًا لِعَهْدِ اللهِ مُخَالِفًا لِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ يَعْمَلُ فِي عِبَادِ الله ِباِْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَلَمْ يُغَيِّرْ بِقَوْلٍ وَلاَفِعْلٍ كَانَ حَقًّا عَلىَ اللهِ اَنْ يُدْخِلَهُ مَدْخَلَهُ

“Barang siapa yang melihat sultan yang zalim dengan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, melanggar janji Allah dan menyalahi sunnah rasulnya, berbuat kejam dan aniaya terhadap hamba-hamba Allah dengan sewenang-wenang, dan orangitu tidak mencegahnya baik dengan lisan ataupun perbuatannya, maka sudalah patut orang itu menempati tempat yang telah disediakan oleh Allah baginya (sulthan yang zalim)”.

 

            Ulama selalu  beramal dengan menegakkan yang wajib  ditegakkan dan melarang yang wajib dilarang.  Mereka tidak menyembunyikan kebenaran syari’at kerana mereka percaya dengan firman Allah SWT:

 

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua mahluk yang dapat melaknat”.  QS 2: 159

 

            Dalam surah ‘Ali Imran: 187  Allah berfirman:

 

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya." Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (QS.Ali Imran 187).

 

            Hari ini, ketika Islam dijauhkan dari kaum muslimin, ketika syariah Islam ditelantarkan oleh para penguasa muslim di seluruh dunia, ketika sekularisme dan berbagai fahaman  asing dari Islam menerjah ke pintu-pintu rumah setiap umat Islam malah di dukung dan di agungkan, ketika umat ini mengalami berbagai kerusakan pemikiran, perasaan, dan kepribadian, maka para ulama pewaris ilmu dan jiwa perjuangan para Nabi itu sudah selayaknya keluar dari tempat berdzikir dan wiridan mereka untuk berjuang melakukan islah, yakni perbaikan bahkan revolusi, yakni perubahan. Ulama wajib tampil menjelaskan kembali bagaimana sunnah Rasulullah saw. dalam berbagai aspek kehidupan, ibadah, akhlak, ekonomi, pendidikan, politik dalam negeri, keamananan, keuangan, juga politik luar negeri, pengaturan militer dan jihad fi sabilillah.  Mereka bukannya boneka, ataupun hamba yang di perbudakkan! Rasulullah saw. diriwayatkan pernah bersabda:

 

مَنْ أَحْيَا سُنَّتِيْ عِنْدَ فَسَادِ أُمَّتِيْ لَهُ مِئَاةُ شَهِيْدٍ

“Siapa saja yang menghidupkan sunnahku pada saat rusaknya umatku, dia akan mendapatkan pahala 100 orang mati syahid”.

 

            Ulama yang memiliki ilmu warisan rasulullah saw. dalam kondisi seperti hari ini tidak boleh diam.  Ulama harus menjelaskan kepada umat, apakah hakikat kehidupan, pengertian syahadah, apakah hakikat pengusa negara menurut syariah Islam, apakah hakikat perundangan dan keadilan negara menurut syariat Islam.  Apa saja tugas negara dalam memelihara urusan umat? Demikian juga apa hakikat tanggungjawab memimpin menurut syariat Islam, apa pula fungsi dan peranannya? Mereka harus keluar, keluar dari kepompong alam yang kecil, dan berjuang di atas alam syahadah yang tiada batasan bagi aqidah yang murni (Kisah Ashabul Ukhdud). Perkataan, penjelasan mereka harus dipenuhi dengan penjelasan-penjelasan yang syar’I, tidak terperdaya dengan jaminan-jaminan keduniaan yang akan menimpakan azab kepada mereka di hari kiamat. Kalau ulama tidak menjelaskan, Umat Islam pasti dalam kebingungan dan kegelisahan, bahkan aqidah mereka akan bersimpang siur, bergelimpangan. Jelaslah, ulama tidak boleh diam, tapi wajib menyampaikan kebenaran Islam.  Rasulullah bersabda:

 

السَّاكِتُ عَنِ الْحَقِّ شَيْطَانٌ اَخْرَسٌ

“Orang yang diam tidak menyatakan yang  benar, dia adalah syaitan yang bisu”.

 

            Ulama yang demikianlah, yang beriman, patut menerima penghargaan yang tertinggi dan mulia yang diberikan oleh Islam. Kerana jasa-jasa dan pengorbanannya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah selaku penyebar ajaran Al Qur’an kepada seluruh umat manusia. Betapa besar jasa para ulama itu dan betapa agung kepribadian mereka. Mereka penyambung mata rantai kebenaran, mereka bukan siapa lagi, adalah kita, yang memahami hakikat perjuangan.

 

19 Jun 2005

KEBAIKAN IBARAT BEKALAN KESENANGAN DI AKHIRAT

 

 

FIRMAN Allah bermaksud: “Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan beramal soleh dan berwasiat dengan kebenaran dan berwasiat dengan kesabaran." (Surah al-Asr, ayat 1-5).


Ulama menafsirkan ayat di atas memberi banyak pengertian untuk dirungkai dan dihayati bersama dalam melayari bahtera kehidupan yang serba mencabar ini.

Islam sentiasa memberi galakan agar seluruh umatnya memanfaatkan kehidupan di dunia dengan amal soleh, di samping iman teguh sebagai bekalan untuk menempuh alam akhirat. Islam memberi jaminan kepada umatnya bahawa kebahagiaan hidup di dunia dan mengecapi kebahagiaan di akhirat akan diperoleh sekiranya umat Islam membuat kebaikan.


Firman Allah bermaksud: “Sesiapa yang beramal soleh daripada lelaki atau perempuan, sedang dia beriman, maka sesungguhnya Kami (Allah) akan menghidupkan dia dengan kehidupan yang baik, dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka akan pahala mereka dengan balasan yang lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan.” (Surah al-Nahl, ayat 97)


Kebaikan yang dilakukan akan mendapat ganjaran tertinggi di sisi Allah dan mendapat penghargaan daripada manusia dan makhluk seluruhnya. Ajaran Islam yang terkandung pelbagai hikmah dan pengajaran sentiasa memberi galakan dan dorongan kepada umat Islam untuk berbuat kebaikan. Hal ini kerana kebaikan yang dilakukan adalah faedah bukan saja untuk dirinya, malah semua orang dan masyarakat.

Firman Allah bermaksud: “Jika kamu berbuat kebaikan (maka faedah) kebaikan yang kamu lakukan adalah untuk diri kamu, dan jika kamu berbuat kejahatan, maka (kesannya yang buruk) berbalik kepada diri kamu juga.” (Surah al-Isra', ayat 7).

Manusia yang dilingkari kebaikan, hidupnya akan beroleh kerahmatan dan keberkatan. Mereka juga akan mendapat kebahagiaan dalam setiap perjalanan kehidupan duniawi dan ukhrawi. Justeru, galakan meningkatkan amalan soleh bukan hanya sebagai perintah yang perlu dipatuhi, malah jalan untuk manusia mengangkat martabat di sisi Allah.

Galakan berbuat kebaikan adalah pengajaran berguna bagi umat Islam dan ganjaran besar menantinya di akhirat. Firman Allah bermaksud : "Dan bagi tiap-tiap umat ada arah (kiblat) yang masing-masing menujunya, Oleh itu, berlumba-lumbalah kamu mengerjakan kebaikan, kerana di mana kamu berada, maka bagi Allah tetap akan membawa kamu semua (berhimpun pada hari kiamat untuk menerima balasan). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu." (Surah al-Maidah, ayat 48)


Sabda Rasulullah SAW bermaksud: "Daripada Ibn Abbas daripada Rasulullah menurut apa yang diriwayatkannya daripada Tuhannya, katanya : Sesungguhnya Allah telah menetapkan segala kebaikan dan segala kejahatan. Kemudian Dia terangkan yang demikian itu, maka sesiapa yang bercita-cita dengan kebaikan, kemudian dia tidak mengerjakannya Allah tuliskan di sisinya satu kebaikan yang sempurna. Dan jika dia bercita-cita dengannya (kebaikan itu), kemudian dia mengerjakannya, Allah tuliskan kebaikan itu (sebagai balasan) di sisinya sebanyak 10 kebaikan hingga 700 kali ganda hingga sampai beberapa kali ganda banyaknya. Dan jika dia bercita-cita dengan satu kejahatan kemudian tidak mengerjakannya Allah tuliskan di sisinya satu kebaikan yang sempurna. Dan jika dia bercita-cita dengannya, lalu mengerjakannya, Allah tuliskan kejahatan itu dengan balasan satu kejahatan saja.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).


Hadis itu menggambarkan betapa Maha Pemurah-Nya Allah terhadap hamba-Nya yang melakukan kebaikan sekalipun dengan hanya bercita-cita atau sekadar niat melakukan kebaikan itu. Namun, ganjaran tetap diberikan. Rahmat Allah terhadap hamba-Nya di dunia amat luas.


Rasulullah bersabda dalam sebuah hadis lain bermaksud: "Daripada Ibn Umar, katanya: Rasulullah memegang bahuku, lalu Baginda bersabda: Hendaklah engkau berada dalam dunia seolah-olah engkau adalah orang yang berdagang atau orang yang sedang melalui di jalan (pengembara). Ibn Umar berkata: Jika engkau berada pada waktu petang, maka janganlah engkau menunggu waktu pagi, dan apabila engkau berada pada waktu pagi, maka janganlah engkau menunggu waktu petang. Dan gunakanlah masa sihat engkau untuk masa sakit dan masa hidup untuk masa mati engkau." (Hadis riwayat Bukhari).



Keinginan mengecapi kebahagiaan hidup yang lebih sejahtera di dunia dan kehidupan abadi di akhirat adalah keinginan yang perlu kepada pengisian kehidupan berlandaskan kepada syariat Islam.

Hakikat menunjukkan bahawa dunia ini tempat untuk beramal bagi sekian waktu yang ditetapkan bagi seseorang. Ia bukanlah tempat untuk bersenang lenang semata-mata tanpa menghiraukan hari perhitungan kelak.


Kehidupan di dunia diibaratkan sebagai seorang yang berdagang. Sebagai seorang pedagang, tentulah merindui kampung halaman. Kerinduan itu, tiada ertinya sekiranya sekembalinya ke kampung halaman tiada apa-apa bekalan yang dibawanya. Waktu di dunia sungguh singkat dan perlu dimanfaatkan sebaiknya untuk beramal dan melakukan pekerjaan berguna. Ia untuk faedah hidup di dunia dan kesenangan pada hari akhirat.


Imam Al-Ghazali dalam tulisannya ada menyatakan: "Sesungguhnya badan anak Adam diibaratkan seperti jala untuk mengusahakan amal-amal yang baik, apabila dia berjaya dalam tugasnya di dunia ini kemudian mati, maka sudah mencukupi bagi dirinya, tidak memerlukan kepada jala itu lagi, iaitu badan yang dipisahkan oleh kematian. Kematian akan melenyapkan keinginan kepada dunia, apa yang diinginkan adalah amal salih untuk menjadi bekalan kuburnya. Jika bekalan itu berada di sampingnya, terasalah kekayaannya. Sebaliknya, jika ia tidak mempunyainya, malang baginya dan dia akan minta untuk kembali ke dunia untuk mendapatkan balik bekalannya."


Penciptaan manusia menerusi proses perjanjian dengan Allah untuk memikul tanggungjawab sebagai hamba dan khalifah. Tanggungjawab itu perlu dilaksanakan dengan sebaiknya kerana ia adalah amanah paling besar diberi kepada makhluk yang bernama manusia.


Keadaan orang yang berbakti iaitu mereka yang beriman dengan hati dan beramal soleh dengan jasad adalah makhluk terbaik. Mereka melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Kedudukan mereka yang bertakwa di sisi Allah di akhirat nanti akan ditempatkan di kalangan nabi, siddiqin, syuhada' dan solihin. Hal ini seperti firman-Nya bermaksud: "Dan sesiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, maka mereka akan (ditempatkan di syurga) bersama-sama orang yang telah dikurniakan nikmat oleh Allah kepada mereka, iaitu nabi dan orang yang siddiqin (amat benar dalam imannya) dan orang yang syahid serta orang yang soleh. Dan amat eloklah mereka itu menjadi teman rakan (kepada orang yang taat)." (Surah an-Nisa', ayat 69).

View of meadow; Size=180 pixels wide



اجلس بنا نؤمن ساعة

Para mukmin sentiasa terdedah kepada dua tarikan: Tarikan keimanan, niat, kesungguhan dan kesedarannya terhadap tanggungjawab. Dengan itu dia berada dalam amal soleh dan azam kebaikan. Tarikan syaitan pula dari sudut yang lain, menghiasi futurnya dan menghiasi cintanya kepada dunia. Menyebabkan dia berada dalam kelalaian, malas, panjang angan-angan dan berlengah-lengah dalam mempelajari apa yang tidak diketahuinya.
 
Oleh itu menjadi satu keperluan untuk kita duduk bersama di dalam suasana tarbawi (yang mendidik) untuk kita beriman seketika (iaitu memperbaharui Iman)اجلس بنا نؤمن ساعة